Sejarah SMP Ma'arif NU 01 Wanareja
Awal berdirinya SMP Ma’arif NU 01 Wanareja berawal dari keprihatinan warga Nahdlatul Ulama (NU) di Desa Bantar, Kecamatan Wanareja, yang pada saat itu belum memiliki lembaga pendidikan tingkat SMP atau MTs yang berhaluan NU. Meskipun mayoritas warga di wilayah tersebut merupakan warga NU, satu-satunya lembaga pendidikan setingkat SMP yang ada hanyalah MTs Guppi, yang belakangan diketahui memiliki faham yang berbeda dengan NU.
Rapat Awal dan Gagasan Pendirian Sekolah
Pada tanggal 11 Juni 2005, diadakan rapat pertama di serambi Masjid As-Sa’ad Buntu Bantar.
Dalam rapat tersebut, para tokoh dan warga NU menyadari pentingnya mendirikan sekolah berbasis NU agar generasi muda dapat memperoleh pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai Aswaja. Rapat tersebut menghasilkan kesepakatan untuk segera menindaklanjuti pendirian sekolah baru.
Selanjutnya, pada tanggal 14 Juni 2005, diadakan rapat lanjutan dengan peserta yang lebih banyak, bertempat di ruang utara kelas 6. Beberapa tokoh penting yang hadir di antaranya adalah H. Tohari, Pak Munawar, Pak Waluyo, Pak Wasil, Pak Supardi, dan Pak Suratman. Dalam rapat ini, H. Tohari mengusulkan nama “SMP Diponegoro Wanareja” dengan harapan semangat perjuangan Pangeran Diponegoro dapat menjadi inspirasi bagi sekolah tersebut. Usulan tersebut diterima dengan baik, dan sekolah pun mulai membuka pendaftaran peserta didik baru untuk tahun ajaran 2005/2006.
Upaya Legalitas dan Dukungan Tokoh
Untuk memperoleh izin dan dukungan, para pendiri melakukan silaturahmi ke berbagai tokoh pendidikan, antara lain ke SMP 1 Mergo (Panulisan Barat) menemui Bapak Sugiyono, serta menemui Bapak Acep Suharto, Kepala UPT saat itu yang merupakan tokoh Muhammadiyah, namun mendukung penuh berdirinya sekolah ini. Mereka kemudian memperoleh buku petunjuk mendirikan sekolah.
Selanjutnya, rombongan bertemu dengan tokoh muda Cilacap, Kyai Fuad, yang dikenal sebagai spiritual dari Bupati Cilacap saat itu, Bapak Probo. Kyai Fuad kemudian menyampaikan salam sekaligus meminta restu kepada Kepala Kemenag Cilacap, Bapak Anwar, mengenai rencana pendirian sekolah tersebut.
Meskipun pada awalnya SMP Diponegoro belum memiliki yayasan resmi, semangat para pendiri tidak surut. Mereka bahkan telah berani membuat stempel sekolah sebagai simbol kesiapan berdiri. Setelah mendapatkan arahan dari pihak terkait, sekolah ini kemudian menjalin kerja sama dengan lembaga yang “senafas”, yaitu MTs Purwasari dan MI Ma’arif Bantar, hingga akhirnya resmi bergabung dalam naungan LP Ma’arif NU dan kemudian dikenal dengan nama SMP Ma’arif NU 01 Wanareja.
Perjalanan Awal dan Para Guru
Pada awal berdirinya, SMP Ma’arif NU 01 Wanareja dipimpin dan diajar oleh sejumlah guru perintis, di antaranya:
- Bapak Suratman
- Ibu Tuti Yuningsih
- Ibu Rini (guru Matematika, kini di MAN 2 Cilacap)
- Ibu Lilis Setiadini (kini di MAN 2 Cilacap)
- Hj. Nurhayati
- Kyai Ahmad Turmudzi (Aqidah Akhlak)
- Indra Budiman, S.Pd (PJOK)
- Gus Munadzir
- Miftahul Huda
- Bapak Ratman, A.Ma
Pada fase berikutnya, hadir pula Bapak Rubiyo dan Ibu Ngatiyah sebagai tenaga pendidik tambahan.
Perkembangan dan Tantangan
Dalam proses legalitas, sempat muncul kendala administratif seperti verifikasi dari Kesbangpol yang dilakukan oleh Bapak Jamaludin Al Azhar, dan sempat dianggap batal. Namun berkat kegigihan para pendiri, sekolah tetap bertahan dan berkembang. Beberapa guru yang pernah mengabdi di SMP Ma’arif NU 01 Wanareja telah berpulang, di antaranya:
- Miftahul Huda (wafat 9 Februari 2008)
- Andi (wafat 4 September 2009)
- Gus Munadzir (wafat 2013)
Sementara itu, banyak guru yang berhasil meniti karier dengan gemilang, seperti:
- Eni Sungkawati
- Imam Rifa’i
- Rubiyo (menjadi PNS di SD)
- Aji Wiguna (penyusun buku kurikulum KTSP)
- Suratman (sertifikasi guru PAI)
- Amrul (PPPK lulus tanpa tes)
- Rojikin (PNS di SMP 3 Banjar)
- Umi Nurul Ulfah
- Marufah
Alumni dan Warisan
Beberapa alumni pertama yang berhasil meniti karier di berbagai bidang antara lain: Sadun, Ahmad Muzaki, Syamsul Falah, Ining Suryani, dan Ela. Pendirian SMP Ma’arif NU 01 Wanareja juga tak lepas dari peran penting tokoh-tokoh seperti Kyai Gatot (almarhum) dari Mulyadadi serta Lurah Syamsudin yang turut mendukung berdirinya lembaga pendidikan NU di Bantar.
Dengan semangat kebersamaan, keikhlasan, dan perjuangan para pendiri, SMP Ma’arif NU 01 Wanareja berdiri tegak sebagai wujud nyata kepedulian warga NU terhadap pendidikan generasi muda. Semangat ini menjadi pengingat agar seluruh warga sekolah tidak “kacang lupa akan lanjarannya”, tetap menghargai perjuangan para pendiri, dan terus melanjutkan cita-cita mereka dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.